• QA CMS - MTS Alwashliyah Tanjung Morawa
img

Buat Surat

Tidak Ada Gambar

MENGHARGAI WAKTU, MENOLAK SIAL

Oleh. Muchlis Muchtar.


PENDAHULUAN.

Makna Wal ‘Ashri dalam Tafsir Al-Azhar.

Dalam mahakaryanya, TAFSIR AL- AZHAR, Buya Hamka memberikan ulasan yang sangat membumi dan sarat akan pesan sosiologis ketika menafsirkan ayat pertama Surat Al-Ashr, yaitu Wal ‘Ashri (Demi masa/waktu sore).

Sebagai seorang mufasir sekaligus sastrawan,

Buya Hamka tidak sekadar mengartikan kata tersebut secara harfiah, melainkan membedah realitas budaya dan psikologis manusia dalam memperlakukan waktu.


ULASAN MINI.

Buya Hamka merujuk pada kebiasaan bangsa Arab jahiliah.

Pada waktu sore atau petang ('ashar), masyarakat Arab terbiasa berkumpul dan duduk santai untuk berbincang-bincang.

Sayangnya, obrolan sore tersebut sering kali melantur hingga memicu pertengkaran, pembongkaran aib, bahkan permusuhan antar kabilah.

Imfack buruk yang timbul dari perkumpulan itu, banyak di antara mereka yang kemudian mengutuk waktu sore dan menganggapnya sebagai waktu yang membawa kesialan atau nasib buruk.

Melalui ayat Wal ‘Ashri, Allah SWT bersumpah demi waktu sore untuk membantah keras takhayul dan salah kaprah tersebut.

Buya Hamka menegaskan bahwa waktu sore atau pergantian hari tidak pernah membawa kesialan. Waktu bersifat netral.

Yang mendatangkan kerugian dan bencana bukanlah lingkaran waktu, melainkan watak, perilaku, dan kegagalan manusia itu sendiri dalam mengisi waktu dengan hal-hal yang bermanfaat.

Waktu sore justru menjadi simbol krusial bagi manusia untuk merenung dan mengevaluasi seluruh aktivitas yang telah dilakukan sejak pagi hari.Lebih jauh lagi,

Buya Hamka memperluas makna Al-'Ashr sebagai totalitas ruang waktu atau modal utama kehidupan yang diberikan Allah kepada setiap manusia. Waktu digambarkan laksana ES BATU yang terus mencair atau modal pedagang yang terus menyusut setiap detiknya.


KONKLUSI.

Sumpah Allah dalam ayat ini menjadi peringatan keras bahwa waktu bergerak linear, hanya bisa maju dan tidak akan pernah bisa diputar kembali.

Seseorang yang membiarkan waktunya berlalu tanpa keimanan, amal saleh, serta kepedulian sosial untuk saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran, pada hakikatnya sedang menuntun dirinya sendiri menuju kebangkrutan hidup yang nyata.

Semoga kita mampu mengimplementasikan ayat ini, dalam kehidupan nyata sehari hari.


Fastabiqul khairat.

tidak ada gambar tidak ada gambar tidak ada gambar